Fitrah Seksualitas Anak-Hari Ke-8
by
Unknown
- 12:00 AM
Presentasi giliran ketujuh adalah dari kelompok 9 yang membawakan subtema tentang menggali penyebab rusaknya fitrah seksualitas pada anak.
Fitrah Seksualitas menjadi Rusak disebabkan oleh :
1. Faktor internal
2. Faktor eksternal
1. Faktor Internal
a. Membiarkan anak mengakses internet dan media elektronik lainnya tanpa pendampingan.
> Bagi sebagian orang tua, kemampuan menyediakan fasilitas komunikasi terkini laiknya smartphone atau gadget justru menjadi ajang pamer sekaligus upaya menunjukkan eksistensi untuk
menegaskan kelas sosial-ekonomi mereka sebagai orang tua yang mapan secara ekonomi.
> Mereka lupa bahwa fasilitas yang diberikan itu tak ubahnya pisau bermata dua (two edges knife), yang tak hanya memudahkan anak-anak mereka mudah bersosialisasi dengan teman sebayanya, tetapi juga berpotensi menikam mereka dari belakang akibat intensitasnya mengeksplorasi isi materi dunia maya yang tidak mendidik.
b. Kurangnya peran ayah dan Ibu karena kesibukan masing-masing
> Ayah sibuk bekerja, Ibu sibuk dengan urusannya sendiri. Sehingga anak-anak menjadi tidak “dekat” dengan kedua orang tua.
> Mendidik Fitrah Seksualitas adalah merawat, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah sesuai
gendernya, yaitu bagaimana seorang lelaki berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagaimana lelaki. Juga bagaimana seorang perempuan berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai seorang perempuan.
c. Inner child orang tua yang belum selesai
> Inner child dalam diri kita sebetulnya bisa bertumbuh dewasa sesuai usia dan pengalaman yang kita hadapi, hanya kadangkala ketika inner child negatif yang muncul dan sangat memberikan trauma butuh kesadaran penuh untuk mengenalinya dan kemudian berdamai.
Contoh Inner child orang tua yang tanpa disadari muncul :
- Istri yang semasa kecil jarang dibersamai oleh orang tuanya dan merasa kesepian sering menginginkan suaminya selalu ada di dekatnya, marah ketika suami memberikan perhatian pada keluarganya, dan ingin perhatian suami hanya kepada istrinya saja, padahal bisa jadi suami sebetulnya sudah sangat baik pada sang istri.
- Suami yang semasa kecil diperlakukan keras oleh kedua orang tuanya atau oleh sanak saudaranya tanpa disadari melakukan KDRT pada istrinya.
- Anak memecahkan piring atau merusak barang, tanpa disadari kita tiba-tiba memukul atau membentaknya
d. Kurangnya wawasan orang tua dalam mendidik anak sesuai fitrahnya
> Menyambut panggilan Allah dengan ikhlash
> Tiada kata terlambat
> Ikhlash berbagi idea, cerita, pengalaman, hikmah
> Rajin belajar bersama dan berkolaborasi dalam komunitas dengan saling menasehati dalam kebenaran, keshabaran dan kasih sayang dalam peran mendidik.
> Yakin bahwa merekalah yang terbaik bagi anak anaknya.
> Syukur dan saabar, memandang anak mereka sebagai karunia terindah, amanah terbaik, sahabat tercinta, kesempatan mengembalikan fitrah diri
> Rileks dan Optimis
e. Timpang dalam proses mendidik anak.
> Ketika anak lelaki mendapat suplai feminitas dari Ibu berlebihan sedangkan suplai maskulinitas dari Ayahnya kurang, maka dia akan mengalami penyimpangan fitrah seksualitasnya misalnya
menjadikan si anak lelaki tersebut "melambai" atau cenderung homo atau paling tidak berkurang
kejantanannya. Pun anak perempuan yang mendapatkan suplai maskulinitas berlebih dari Ayahnya dibandingkan dengan suplai Feminitas dari Ibunya maka akan menjadikan si anak perempuan tersebut tomboy atau cenderung lesbi atau berkurang feminitasnya.
f. Orang tua merasa tabu dalam menjelaskan seksualitas pada anak
> Di sekolah mungkin diajarkan mengenai anatomi tubuh manusia, tetapi tentu tidak menjawab banyak pertanyaan lain soal reproduksi karena hanya sedikit sekali yang disampaikan oleh guru maupun buku text sekolah. Bertanya pada Bapak, Ibu, atau Kakak tidak pernah jadi pilihan karena kadung takut dimarahi ketika membahas hal itu. Membicarakannya dengan teman malah bisa jadi menggelikan atau memicu kecanggungan.
2. Faktor Eksternal
a. Tinggal pada lingkungan yang tinggi tingkat pelencengan seksualitas
> Menurut pendapat Shaw, Mckay dan McDonald (1938), menemukan bahwa di kampung-kampung yang berantakan dan tidak terorganisasi secara baik, perilaku jahat merupakan pola perilaku yang normal dan wajar.
> Hal-hal yang diajarkan oleh keluarga mungkin berbeda dengan yang disampaikan oleh agen di sekolah. Contoh: Perilaku yang dilarang oleh keluarga dan sekolah, seperti penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual, membolos, merokok, berkelahi, dan lain-lain diperoleh dari agen sosialisasi, kelompok pergaulan dan media massa.
> Dalam proses sosialisasi, seseorang mungkin dipengaruhi oleh nilai-nilai subkebudayaan yang menyimpang, sehingga terbentuklah perilaku menyimpang. Contoh : seorang anak dibesarkan pada
lingkungan yang menganggap perbuatan minum-minuman keras, pelacuran, dan perkelahian sebagai hal yang biasa, maka anak tersebut akan melakukan perbuatan menyimpang yang serupa.
> Menurut ukuran masyarakat luas, perbuatan anak tersebut jelas bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, maka perbuatan anak tersebut dapat dikategorikan menyimpang.
> Apabila pelanggaran sudah dianggap biasa, karena toleransinya pengawasan sosial, penyimpangan itu akhirnya menjadi konformitas. Contoh: perbuatan menyuap seakan-akan menjadi konformitas, dan perbuatan siswa mencontek pada waktu ulangan.
b. Pembiaran masyarakat pada masalah sosial yang terjadi di lingkungannya
> Parahnya kondisi akhlak masyarakat, terutama' generasi mudanya, bisa jadi bermula dari adanya pembiaran dari kita. Ya, pembiaran dalam arti tidak adanya atau minimnya peneguran terhadap berbagai kesalahan kecil atau besar yang terjadi di hadapan kita.
> Oknum orang tua membiarkan anaknya berbuat kesalahan.
> Oknum guru membiarkan muridnya melakukan pelanggaran.
> Oknum tokoh panutan agama membiarkan ummat menyimpang dari rel agama.
> Oknum aparat pemerintahan membiarkan rakyatnya melanggar aturan.
c. Kerancuan pola asuh yang kadang dialami oleh keluarga yang tinggal dalam lingkungan keluarga besar
> Kakek-nenek menjadi salah satu sumber bantuan, dukungan, dan dorongan. Mereka selalu tahu apa yang harus dilakukan jika cucunya tidak enak badan, tidak mau makan, tidak bersendawa, menangis, dan sebagainya. Masalah kasih sayang juga tak diragukan lagi. Mereka dengan sepenuh hati akan memberikan yang terbaik bagi cucunya. Namun, kadang campur tangan kakek-nenek dalam pengasuhan anak, sering melanggar peraturan yang orangtua terapkan untuk mendisiplinkan anak.
Salam,
-Cita-



