NHW #3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah-Kelas Matrikulasi IIP Batch #4 Bekasi 1

by - 6:30 PM


Alhamdulillah kelas matrikulasi batch 4 yang saya ikuti sudah masuk materi ke 3 yang artinya NHW-nya makin berat sis 😄😄 Salah satu tantangannya adalah membuat surat cinta untuk suami. Wakwaw banget ya secara saya dan suami orangnya sama-sama cuekan gitu lah. Ya Allah tolong ibuk Ziva Ya Allah 😜 Urusan surat cinta untuk suami ini nih yang bikin heboh ibu-ibu di grup 😃 Malah ada yang sudah mengibarkan bendera putih duluan 🙈

Jadi NHW #3 kali ini adalah:
a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

b. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan di sini? 

a. This is it, love letter buat suami tercinta 💓💓

Menjelang 4 tahun pernikahan

Dear Ayah,
Tanggal 22 bulan ini pernikahan kita genap 4 tahun. Nggak kerasa ya....atau kerasa banget hehehe...Banyak hal sudah kita alami. Susah, senang, sedih, gembira, berantem, baikan, diem-dieman, peluk-pelukan 😉
Aku pernah tanya kenapa dulu mau dengan aku? Kalau aku nggak salah ingat, kamu bilangnya ya karena sudah jalannya aja. Tolong koreksi kalau aku salah ya.
Aku pernah tanya kalau nanti aku meninggal duluan, kamu bakal menikah lagi atau nggak? Kamu bilangnya, ah jangan dipikirin dulu, gimana nanti aja.
Bulan Desember 2012 pertama ketemu di Riau Junction, Bandung, 11 Januari 2013 pertama ketemu keluarga kamu di Palembang, 26 Januari 2013 keluarga kamu datang ke Cirebon untuk melamar, dan 22 Juni 2013 Allah menyatukan kita dalam ikatan pernikahan.
Dalam waktu enam bulan saja dari mulai kenal sampai kemudian menikah. Padahal dulu sempat ya kita berucap bahwa nggak akan terburu-buru untuk menikah 😊
Tapi ya begitulah kalau takdir sudah berbicara.
Terima kasih sudah "tahan" menghabiskan waktu bersamaku selama 4 tahun ini. Semoga kita terus memperbaiki diri masing-masing ke arah yang lebih baik, bisa jadi orang tua terbaik untuk Ziva, terus bersama dan tetap bertahan di tahun-tahun berikutnya, selamanya until jannah.
Doa terbaik selalu terpanjat untukmu. Btw, makasih sudah beliin ibu hp baru dan tambahan uang jajan  💓

Respon suami:
Suami: aku harus jawab apa
Istri: ya responnya gimana dengan tulisan aku
Suami: nggak ada pertanyaan gimana aku mau jawab
Istri: ya merespon sesuatu nggak harus dari kalimat pertanyaan kaleeee....misal aku bilang i love you, kan dibalesnya i love you too, begitu
Suami: ohhh.... ya udah sama-sama
Istri: ya kok responnya cuma ya sama-sama
Suami: ya trus harus gimana
😆😆😆😆

Dasar suami istri nggak ada yang romantis jadi begini dah

b. Tentang anak
Anak kami (perempuan) bulan April yang lalu genap 3 tahun usianya. Jujur, dulu sebelum menikah saya sangat nggak suka dengan anak kecil. Makanya setelah menikah sempat ada keinginan untuk menunda kehamilan karena saya belum siap. Tapi Allah berkehendak lain. Hanya satu bulan kosong, Allah menitipkan janin perempuan di rahim saya yang ketika lahir kami beri nama Zivara Medina (ada embel-embel Medina karena pada saat hamil, saya menunaikan ibadah umroh). Di usianya yang sekarang kalau kata orang lagi sedeng-sedengnya. Kalau kata orang Barat sana istilahnya anak sedang dalam tahap threenager. Tanda-tandanya antara lain cepat berubah, keras kepala, dan selalu punya keinginan yang harus dipenuhi saat itu juga.
Berbicara tentang potensi anak, sejauh pengamatan saya selama ini kemampuan berbahasa Ziva lebih unggul dibandingkan teman-teman sebayanya di lingkungan rumah. Di usianya yang 3 tahun sudah bisa dengan kalimat lengkap saat mengutarakan keinginannya. Selain itu daya ingatnya juga tergolong tajam. Misalnya hanya beberapa kali diperkenalkan tentang warna-warna (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris), dia sudah bisa hapal. Begitu juga tentang nama-nama hewan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Dalam urusan menyanyi dan beberapa surat pendek Al-Quran serta doa-doa pendek pun termasuk kategori gampang hapal liriknya. Saya masih ada keinginan untuk menggali potensi anak saya di bidang olah raga seperti berenang, di bidang musik seperti bermain salah satu jenis alat musik, menari balet, dan melukis/ menggambar. Namun saya bukan memaksakan sih, hanya memperkenalkan untuk melihat apakah anak ada ketertarikan di salah satu bidang tersebut.

c. Tentang potensi diri sendiri
Jujur saya bingung tentang pertanyaan ini karena saya merasa saya nih nggak ada apa-apanya. Berenang nggak bisa, mengendarai motor dan mobil nggak bisa, kemampuan berbahasa Inggris fair, kemampuan berbicara di depan orang banyak ya gitu-gitu aja, kemampuan berhitung ya so so lah 😁
Sempat saya menyalahkan orang tua saya kenapa dulu saya nggak disuruh les ini les itu, kursus ini kursus itu untuk mengembangkan bakat atau keterampilan saya. Tapi ya mungkin karena ketidaktahuan mereka di masa lalu ya. Ya sudahlah, mari kita berdamai dengan innerchild. Balik lagi tentang potensi diri. Sebenarnya saya suka membaca dan menulis. Tapi akhir-akhir ini saya seperti kehabisan waktu untuk sekedar membaca buku, Tapi bisa jadi manajemen waktu saya yang amburadul. Saya seorang ibu yang bekerja di area publik dari hari Senin-Jumat. Berangkat kerja jam 8 pagi, pulang sampai rumah jam 6 sore. Sampai rumah seringnya saya sudah kelelahan. Jadi lebih sering kalau sudah di rumah goler-goler di kasur sambil buka hp 🙈
Oiya saya juga suka memasak walaupun belum jago. Setiap hari sebelum berangkat kerja saya menyempatkan diri masak untuk makan keluarga. Saat ini saya juga sedang mengikuti kursus membuat pempek dan menerima order kecil-kecilan. Saya punya cita-cita nanti suatu hari sudah tidak bekerja di ranah publik lagi, mungkin saya akan berbisnis kuliner pempek.
Di rumah saya termasuk dominan dibandingkan suami. Gaji suami diserahkan ke saya untuk saya atur. Suami lebih sering mengikuti saja. Mungkin karena pengaruh saya yang anak pertama dan mempunyai dua orang adik hehehe. Tapi urusan anak, suami seringnya lebih sabar dari pada saya seringnya cepat tersulut emosi, maunya marah-marah aja sama anak dan tidak sabaran.

d. Tentang lingkungan tempat tinggal
Saat ini kami tinggal di Cikarang, suatu area di planet Bekasi 😄😄😄 Saya sendiri sudah masuk tahun kesepuluh tinggal di Cikarang. Sedangkan di rumah yang kami kontrak sekarang masuk tahun keempat. Kami tinggal mandiri di Cikarang. Orang tua saya tinggal di Bandung, sedangkan mertua saya di Palembang. Rata-rata ibu-ibunya ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan yang bekerja di ranah publik bisa dihitung dengan jari. Dulu bahkan saya nggak tahu ada daerah namanya Cikarang. So far kami betah tinggal di sini karena lokasinya cukup strategis. Mau ke Bandung dekat, mau ke Jakarta ya cukup dekatlah. Di lingkungan tempat kami tinggal sekarang karena kondisinya perumahan biasa (bukan cluster) jadi hubungan antar tetangga cukup dekat. Setiap pekan ibu-ibunya rutin mengadakan pengajian (saya ikut kalau pengajiannya dilaksanakan hari Sabtu/ Minggu). Hal lain yang menyenangkan adalah dekat pasar (ibu-ibu banget ya), dekat dengan warung, pilihan sekolah untuk anak banyak, tukang sayur tiap hari lewat, dan dekat masjid. Tantangan tinggal di lingkungan saat ini adalah perbedaan pola asuh anak kami dengan anak-anak tetangga. Sehingga kadang ada hal-hal tidak baik yang ditularkan dari anak-anak tetangga ke anak kami karena dalam kesehariannya anak kami ya sering bermain dengan anak-anak tetangga. Misalnya ucapan-ucapan yang tidak baik dan  perbuatan tidak baik. Sungguh hal ini menjadi PR saya dan suami untuk menjaga agar anak tetap on the track tapi tidak menghilangkan kebebasannya bermain dengan teman-temannya.
Dulu saya sempat tidak betah tinggal di Cikarang. Tapi dengan berjalannya waktu, Allah berkehendak kami tetap di sini mudah-mudahan ini yang terbaik. Dengan tinggal berjauhan dari orang tua, mungkin Allah ingin supaya kami jadi pribadi yang mandiri dan kuat menghadapi tantangan-tantangan di dalam menjalani kehidupan ini.

Demikian coretan-coretan saya dalam NHW #3 kali ini. Semoga dengan mengikuti kelas matrikulasi ini, saya menjadi orang yang lebih baik lagi dalam menjalani peran sebagai diri sendiri, istri, dan ibu.
Aamiin.

Salam
-Cita-


You May Also Like

0 comments