Fitrah Seksualitas Anak-Hari Ke-10

by - 4:12 AM


Presentasi kesembilan hari ini dibawakan oleh kelompok saya sendiri hehehe, yaitu kelompk 6 dengan subtema Peran Orangtua dalam Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Anak.



Isi:
Apa itu Fitrah Seksualitas?
Pendidikan Seksualitas
Fitrah Based Education
Peran Ayah
Peran Ibu
Kesalahan yang biasa terjadi
Solusi dari kesalahan

Apa itu Fitrah Seksualitas?
Mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya. Yaitu bagaimana seorang lelaki berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagaimana lelaki Juga bagaimana seorang perempuan berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai seorang perempuan.

Prinsip Fitrah Seksualitas
Prinsip 1 : Fitrah Seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun)
Prinsip 2 : Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anaklelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.
Prinsip 3 : Mendidik Fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan.

Pendidikan Seksualitas
Menurut Ustadz Bendri Jaysurrahman, Islam membuat patokan bahwa pendidikan seksualitas terkait dengan terpenuhinya tiga hal :
a.       Seksualitas yang benar, tentu patokannya adalah Syari’ah, yaitu bagaimana perilaku orang laki-laki secara AlQur’an dan Sunnah. Bagaimana mengajarkan anak sesuai dengan kaidah Syari’ah yang tidak boleh kita meniru cara-cara Barat yang diharamkan. Contohnya, cara Barat apabila seorang ayah ingin mengajarkan tentang laki-laki, khususnya tentang organ kemaluan, maka si bapak mengajak anak laki-lakinya untuk mandi bersama. Telanjang bersama, lalu ditunjukkan kemaluan, ini namanya ini, fungsinya ini, dan seterusnya. Yang demikian itu sangat bertentangan dengan ajaran dan adab Islam, di mana seorang anak laki-laki yang mumayyis (sudah bisa membedakan antara kanan dan kiri), maka ia sudah punya adab terhadap orangtuanya. Bahkan seorang anak untuk masuk ke kamar orangtuanya saja harus mengetuk pintu terlebih dahulu. Tidak sembarangan. Itulah salah satu patokan pendidikan dalam Islam.
b.      Seksualitas yang sehat, yaitu berkaitan dengan faktor kesehatan. Bagaimana disunahkan laki-laki untuk ber-khitan, terkait dengan fungsi kesehatannya. Dan itulah salah satu yang diajarkan dalam Islam.
c.      Seksualitas yang lurus, artinya sesuai dengan fitrahnya. Jangan sampai ada anak laki-laki badannya gempal, berotot, tetapi gayanya seperti orang perempuan (maho, homo). Dompetnya-pun berwarna pink. Dst.
Fitrah adalah sejenis software yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada seorang anak. Berbeda dengan pemahaman orang Barat yang menyatakan bahwa anak itu ibarat kertas
putih, tinggal orangtuanya yang mengisinya. Sedangkan dalam Islam, seorang bayi sudah mempunyai programsoftware, sudah ada fitrahnya, pertama ia (bayi) itu Islam. Lihat Al-Qur’an Surat Al A’raaf ayat 172: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?”
mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi“. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278). Di dalam Al-qur’an kisah percakapan ayah dengan anaknya ada 14 kali dibandingkan dengan ibu yang hanya 2kali. Para ayah harus berdialog dan memiliki keakraban serta komunikasi yang baik dengan anak-anak. Bahkan
penting sekali seorang ayah berdialog kepada anak melalui nasehat pada tulisan.
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan
dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.” (Tuhfah al Maudud hal. 123)

Fitrah Based Education

Menurut buku Fitrah Based Education karangan Ust. Harry Santoso tentang fitrah seksualitas, pada usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada fase menyusui, di usia 3 – 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai
perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya,
sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki".
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena
ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan
seksualitas lainnya sudah dimulai. Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah,
karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab
moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat. Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka, bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.

Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan
peran keibuannya bangkit. Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak-anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus
menjelaskan makna konsekuensi adanya Rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak
fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi
pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun
seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak-anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya.

Fitrah Peran Ayah
Penanggung jawab pendidikan
Man of visson and mission
Sang ego dan individualitas
Pembangun sistem berpikir
Supplier maskulinitas
Penegak profesionalisme
Konsultan pendidikan
The person of "tega"

Fitrah Peran Ibu
Pelaksana harian pendidikan
Person of love and sincerity
Sang harmoni dan sinergi
Pemilik moralitas dan nurani
Supplier feminitas
Pembangun hati dan rasa
Berbasis pengorbanan
Sang “pembasuh luka”

Kesalahan yang biasa terjadi

1.       Orangtua yang acuh terhadap sisi maskulini dan sisi feminim anak.
a.         Orang tua yang tidak mengingatkan anak laki-lakinya yang berpenampilan menyerupai perempuan, atau anak perempuan yang menyerupai laki- laki
b.         Kurang memperhatikan dengan siapa anaknya bergaul
c.          Tidak memberikan pengertian kepada anak tentang bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh terlihat oleh orang lain

2.       Fatherless dan motherless, ketiadaan peran masing- masing orang tua atau bahkan keduanya
a.       Orang tua ada, tapi seperti tidak ada. Misal, ketika anak bermain, orang tua menemani tapi sambil bermain gadget.
b.      Anak laki- laki yang kekurangan sosok ayah dalam kesehariannya, akan kekurangan sisi maskulinnya atau bahkan terjadi penyimpangan, begitu pula sebaliknya.
c.       Lupa mengajak mereka bermain. Lupa kalau mereka sungguh masih anak-anak. Dan bila sudah remaja, mereka lupa mengajak anak-anak bicara soal ketertarikan pada lawan jenis, sudah mendapat tanda2 baligh atau belum.

3.       Orang tua tidak memberikan pengertian dan pendampingan pada anak yang akan dan sedang memasuki masa pubertas

4.       Memanjakan anak/menuruti kemauannya secara utuh hingga membuat anak tumbuh tidak mandiri, tidak menjadi lelaki/perempuan sejati
a.         Misal: Anak lelaki tidak belajar menjadi sosok yg dapat diandalkan atau bertanggung jawab. Anak perempuan menjadi malas untuk menghidangkan sesuatu (memasak) atau belajar memasak.

5.       Tertukarnya peran orang tua
a.       Sebagai contoh, ibu lebih tegas daripada ayah, dapat membuat kewibawaan ayah turun.

Solusi

Untuk dapat mencegah atau memperbaiki kesalahan dalam menumbuhkan fitrah seksualitas, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan, diantaranya:

1.       Kuatkan pondasi keimanan anak sejak dini
2.       Mendidik anak mulai dari aspek aqidah, akhlaq, social kemanusiaan dan jasmani
3.       Ajarkan anak untuk memabaca dan memahami Al-Quran
4.       Menjadi figur ayah sebagai sosok lelaki sejati dan menjadi panutan bagi anak dan ibu menjadi figure yang penyayang dan lemah lembut
5.       Mendidik anak sesuai gendernya, seperti untuk anak laki-laki, latihlah ia untuk menjadi imam solat berjamaah, latih sikap kepemimpinan, latih untuk menjadi seorang yang bijak, dan latih keterampilan fisik. Untuk anak perempuan, perintahkan ia menutup aurat, bersama ibu, latihlah ia untuk senang mengerjakan pekerjaan rumah.
6.       Menerapkan Gadget Hours. Membuat kesepakatan bersama pasangan untuk meletakkan ponsel saat sedang bersama keluarga
7.       Mengedepankan quality time
8.       Bangun komunikasi produktif antar keluarga hingga anak tidak segan menceritakan apapun

 Salam,
-Cita-

You May Also Like

0 comments